NURANI

“Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air”

Penggalan sajak Kerendahan Hati karya Taufik Ismail tersebut mengingatkan saya pada sebuah cerita tentang salah satu tokoh NU, Mbah Muchit beliau biasa dipanggil. Beliau menetap dirumah sederhana yang bersebelahan langsung dengan masjid Sunan Kalijaga, Jl Kalimantan, Tegal Boto Jember. “Kebanyakan warga NU lebih suka menjadi supir, tidak ada yang mau menjadi montir” ujar beliau beberapa waktu lalu.

Mbah Muchit tidak pernah mengikuti arus politik, yang sekarang menjadi “profesi” baru ulama kita. Beliau hanya ingin menjadi jalan setapak bagi umatnya, tidak perlu menjadi jalan utama, yang penuh lubang, akan tetapi cukup jalan setapak yang membawa setiap orang ke mata air.

Sebagai insan gerakan kita tidak perlu “ketakutan” menghadapi persoalan. Kierkigard pernah mengatakan bahwa untuk menemukan diri kita yang sebenarnya, kita harus terjun ke lubang yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Bergerak maju dengan tangan tetap terkepal merupakan simbol resistensi atas ketimpangan sosial disekitar kita. Tidak boleh berpangku tangan dan membiarkan kedzoliman memangkas kedamaian di tanah Tuhan ini.

Saya juga teringat Mustofa Bisri pernah menulis seperti ini.

 ”jadi apa lagi
yang bisa kita lakukan
bila mata sengaja dipejamkan
telinga sengaja ditulikan
nurani mati rasa”

Kesadaran adalah hukum terkejam dari Tuhan. Kita dibuat tahu tapi tidak mengerti, kita disuruh hafal tapi tidak paham. Negara, kapitalisme, lingkungan, kampus dan bahkan pacar telah mengkonstruk kita pada ideologi “semau gue“. Apa yang menjadi permasalahan pribadi adalah konsumsi publik, dan masalah publik bukan konsumsi pribadi. Heran juga saya, kenapa di dalam pendidikan tidak mengenal kemiskinan, akan tetapi pemiskinan.

Sebagai manusia kita sebenarnya memiliki perangkat lunak, yaitu nurani. Setebal apapun kabut pekat yang menyelimutimu suatu ketika kau akan merasa bersalah dan punya keinginan untuk merubah diri, meskipun itu terasa sulit. Jaman sekarang ini untuk “bernurani” tidak terlalu sulit, mengundang stasiun TV ketika memberi sumbangan, berbicara terlalu banyak sesaat setelah bersedakah, menolong sesama hanya saat benar-benar menguntungkan secara politis.

Sudahlah, kita cukup menjadi mahasiwa saja. Kita tidak perlu menjadi orang besar untuk melakukan tindakan besar. Lebih dari cukup hanya berbekal nurani, tak usah pangkat atau kepentingan, karena kita manusia bukan rongsokan yang kebetulan diciptakan.

“Tidaklah semua menjadi kapten
 tentu harus ada awak kapalnya….
 Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
 rendahnya nilai dirimu
 Jadilah saja dirimu….
 Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri”.

Tinggalkan Balasan