<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="WordPress.com" -->
<rss version="0.92">
<channel>
	<title></title>
	<link>http://banirasad.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Jan 2008 11:06:04 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>id</language>
	
	<item>
		<title>NURANI</title>
		<description><![CDATA[“Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil, 
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air”
Penggalan sajak Kerendahan Hati karya Taufik Ismail tersebut mengingatkan saya pada sebuah cerita tentang salah satu tokoh NU, Mbah Muchit beliau biasa dipanggil. Beliau menetap dirumah sederhana yang bersebelahan langsung dengan masjid Sunan Kalijaga, Jl Kalimantan, Tegal Boto [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banirasad.wordpress.com&blog=2261049&post=34&subd=banirasad&ref=&feed=1" />]]></description>
		<link>http://banirasad.wordpress.com/2008/01/05/nurani/</link>
			</item>
	<item>
		<title>SAJAK UNTUK KAWAN-KAWAN REVOLUSIONERKU</title>
		<description><![CDATA[Kurang lebih, dua tahun beberapa bulan 
Kita mulai merajut tawa bersama
Akar-akar mulai tumbuh 
dikedua jarak kaki kita
Daun-daun mulai mekar 
dikedua jarak tangan kita
Warna-warni bunga mulai kuncup 
dikedua jarak mata kita
kemarin bersamasama kita
telah mengatakan tidak
pada sebuah 
kemungkaran
ketidakadilan
akarakar itu telah menyatu
kuat
daundaun itu telah bersemi
hijau
bungabunga itu telah mekar
wangi
kalian adalah
cerita tentang 
keberanian
kalian adalah
kisah tentang
kebersamaan
cinta kasih
dan
keadilan. . . .
&#160;
&#160;
&#160;
16 Desember [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banirasad.wordpress.com&blog=2261049&post=25&subd=banirasad&ref=&feed=1" />]]></description>
		<link>http://banirasad.wordpress.com/2007/12/20/sajak-untuk-kawan-kawan-revolusionerku/</link>
			</item>
	<item>
		<title>galau</title>
		<description><![CDATA[disebrang waktu 
aku mulai jatuh hati
padamu.
jelaga waktu
menggantung kesadaran
menjadikannya 
sekatsekat
galau,
sebentarbentar
dingin
sebentarbentar
panas
&#160;
&#160;
16 Desember 2007
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banirasad.wordpress.com&blog=2261049&post=24&subd=banirasad&ref=&feed=1" />]]></description>
		<link>http://banirasad.wordpress.com/2007/12/20/galau/</link>
			</item>
	<item>
		<title>KULIAH KOPI</title>
		<description><![CDATA[Gemericik air tumpah, tanah gersang yang kupijak mendadak terasa begitu sejuk. Kekeruhan hatiku menghilang bersama lari kencangku menghindari hujan.
“Jangan lari-larian, licin!. Teriak salah satu dosenku. 
Cuek saja pikirku, kalau tidak berlarian basah kuyup aku nantinya. Lariku yang kencang, telah membawaku sampai ditempat tujuanku, kantin.
Habis kuliah apa bro?. Tanya temanku.
“Kajian puisi”. Sahutku cepat. “Kamu gak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banirasad.wordpress.com&blog=2261049&post=7&subd=banirasad&ref=&feed=1" />]]></description>
		<link>http://banirasad.wordpress.com/2007/12/05/kuliah-kopi/</link>
			</item>
	<item>
		<title>HANS</title>
		<description><![CDATA[&#160;
“Hans sudah sore cepat mandi, nanti asarnya keburu abis!”. “Iya Bu, tanggung lagi seru main bolanya” sahutku cepat. 
Tiba-tiba telingaku terasa panas dan seperti ditarik kencang.
“Kenapa sih Bu pakek narik telinga segala, Hanskan sudah besar”. Tubuhku meronta-ronta minta dilepaskan. “Kamu itu tidak lihat apa Ibu sampai harus berteriak-teriak, apa Hans tidak lihat Ibu sedang menyapu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banirasad.wordpress.com&blog=2261049&post=6&subd=banirasad&ref=&feed=1" />]]></description>
		<link>http://banirasad.wordpress.com/2007/12/05/hans/</link>
			</item>
</channel>
</rss>
